Tip dan Praktik Liputan Investigasi dari Dapur Tempo

Dalam penyambutan ulang tahun Tempo yang ke 50, diadakan sebuah acara bertemakan bincang-bincang berjudul “Resep dari Dapur Tempo: Tip dan Praktik Liputan Investigasi”. Acara dipandu oleh wartawan Tempo sendiri yaitu Nana Riskhi dan menghadirkan pemimpin redaksi Tempo, Budi Setyarso yang sudah mengabdi selama 20 tahun sebagai jurnalis Tempo. Acara ini ditayangkan lewat kanal YouTube Tempo pada tanggal 4 Maret 2021. Dalam acara ini, narasumber Budi Setyarso akan membagikan berbagai tips dan praktik sesuai dengan pengalamannya melakukan liputan jurnalistik.

Seperti yang diketahui bahwa Tempo banyak dikenal seputar liputan investigasinya. Tempo berdiri pada 6 Maret 1971 dan telah menjadi pioneer dalam beberapa jenis karya jurnalistik, salah satunya adalah liputan investigasi. Liputan investigasi tempo telah banyak menjadi rujukan hukum, terutama dalam pengungkapan kasus-kasus yang serius, contohnya, ketika ada kasus skandal pajak, tulisan investigasi Tempo dianggap benar dan dijadikan saksi di mata hukum. Liputan investigasi ini kerjnya sangat panjang karena harus bisa mengungkap kasus-kasus yang tidak banyak diketahui orang awam atau pun media biasa. Dalam liputan investigasi juga tidak hanya cara kerjanya saja yang panjang dan berat, namun resikonya juga tinggi. Tidak jarang banyak awak media yang harus diintimidasi dan terancam karena banyak pihak-pihak yang tidak suka. Oleh karena itu, menurut Mas Budi, kerja jurnalis investigasi harus berbentuk tim dan tentuny saling bekerja sama dan melengkapi.

Untuk menjadi wartawan liputan investigasi tentunya tidak mudah. Mas Budi menyatakan ada beberapa hal yang mempengaruhi seorang wartawan untuk melakukan liputan investigasi, yang pertama adalah ekosistem. Ekosistem yang dimaksud adalah tempat wartawan tersebut bekerja. Tidak semua media mau dan sanggup untuk melakukan liputan investigasi, sehingga jika wartawan ingin melakukan yang namanya investigasi, ia haru mencari media mana yang mendukung liputan investigasi. Seperti yang kita tahu juga, bahwa melakukan sebuah liputan investigasi tentu memakan waktu yang panjang dan tentunya biaya yang tidak sedikit. Yang kedua, disebutkan oleh Mas Budi, adalah dari pribadi wartawan itu sendiri. Menjadi seorang wartawan, terutama yang akan melakukan liputan investigasi, harus bersikap skeptik, artinya, seorang wartawan tidak boleh mudah percaya dan mudah puas pada ssatu informasi. Misalnya, ada dokumen yang dikirimkan kepada wartawan tersebut entah darimana, maka wartawan tersebut tidak boleh asal menerima dan menuliskan beritanya, tentunya harus di cross-check terlebih dahulu. Buktikan bahwa data-data yang berada pada dokumen tersebut benar adanya dan valid, contohnya, ada tanggal yang tidak sesuai dengan keluarnya data, dsb. Setelahnya, wartawan harus melakukan konfirmasi terutama kepada si pengirim dokumen mengenai data-data yang terdapat dalam dokumen.

Cross-check atau pembuktian tidak bisa hanya dilakukan sekali, harus berkali-kali sampai kepada kebenaran yang terungkap, sehingga pengujian terhadap data-data harus dilakukan berkali-kali. Wartawan juga harus bisa mencari sumber data lainnya sebagai pendukung pengungkapan kasus. Jika ada dokumen dengan sumber anonim, maka sumber tidak bisa dituliskan dalam berita dan harus diuji lagi. Sumber anonim pun hanya bisa dikutip apabila mengungkapkan fakta.

Selain itu, wartawan harus bisa memperluas lingkup kerjanya. Networking itu sangat penting bagi seorang wartawan, bagaimana ia bergaul dengan berbagai kalangan, yang tentunya akan mempermudah mencari informasi-informasi lainnya. Menurut Mas Budi, ini juga merupakan modal untuk melakukan liputan investigasi, karena memang semua dimulai dari temuan awal, namun tentu dibutuhkan data-data pendukung yang pastinya tidak hanya dimiliki oleh satu orang atau satu kalangan. 

Comments